Cari Blog Ini

Minggu, 12 Mei 2013

Dalam Lembar

Oleh: Harti Katresna


Akan kusebut ini halaman sekian,
tumpuanku setelah alami sekian cerita,
setelah menikmati sekian tawa,
setelah meratapi sekian tangis,
menyambangi sekian kompetisi,
dan menemukan sekian makna.

Kusebut ini lembar ke sekian,
tumpuanku menuju sekian cerita,
menuju sekian tawa,
sekian tangis,
sekian kompetisi,
dan menemukan sekian banyak artian,

Kadang aku lupa,
bahwasannya aku berada dalam lembar,
di dalam cerita,
di halaman sekian.
yang ajaib.yang begitu hebat.
kadang aku ingin menengok kebelakang,
lalu menatap kedepan, atau mungkin kemudian berputar,
seperti tak mengerti posisi,
tak tahu diri!
kadang aku santai berjalan merasai udara,
kadang juga berlari kencang menemani angin,
dan kadang aku berbaring merebahkan diri dibumi memandangi langit,
seolah kehidupan tak punya peraturan.

Di halaman sebelum sekian,
ada sisipan cerita sederhana.

Seseorang menghampiriku, menjadi bait dalam ceritaku.
Aku tidak tahu siapa dia,
mungkin dia tokoh piguran, peran pembantu, atau bahkan peran antagonisnya,
yang ku khawatirkan jika ternyata dia pemeran utamanya,
hmm,... tapi mungkin saja!
ia menepuk pundakku ketika aku berada di dunia tak beraturan itu,
dia menatapku kemudian tersenyum padaku,
tidak ada kata. Tanpa kalimat.
Auranya yang menjadi tanda baca sehingga aku mampu menangkap makna,
akupun tersenyum padanya mengantarkan kami pada kata-kata
membentuk kalimat.

Dri halaman sebelum sekian itu,
ia begitu cepat beradaptasi dalam cerita,
bahkan sampai tak sadar menyamarkan peranku dalam cerita,
ia telah mendominasi halaman,
dan menjadikan aku pelengkap ceritanya.
tapi begitu indah dan berkelas,
semuanya adalah tentang sisipan senyum demikian aku menyebutnya.

Kami mulai bercerita tentang banyak hal,
menyatuka 'satu persepsi' dengan 'satu persepsi' menjadi 'satu persepsi'
begitu mudahnya terjadi bahkan ketika aku baru mengenalnya secara samar.

Ada satu pertanyaan darinya yang menggantung tak aku jawab,
"Mengapa kamu mempercayaiku? padahal kita dipertemukan baru dalam beberapa penggal waktu,.."
Aku tak sempat jawab,
bukan karena aku takut keliru,
tapi karena akupun tak tahu jawabannya.

dan ia tak bertanya lagi,..

Di halaman sebelum sekian,
dia ajarkan aku menengok kebelakang,
menatap ke depan, dan berputar dengan lebih sempurna,
ia juga ajarkan aku berjalan, berlari dan berbaringyang lebih berkualitas.
dan tidak hanya itu,
ia ajarkan aku melakukan segala hal hanya dengan memejam.
menjadikan telunjukku sebagai pena untuk menulis di telapak tangan kirinya,
aku hanya diam, dan dia hanya bilang,
"ini visualisasi" katanya ketika itu,
begitu seterusnya kami berilustrasi dalam impian.

Dan sampailah berada pada titik jenuhnya,
beberapa halaman tiba-tiba menjadi begitu kosong tak bercerita,
hanya menceritakan ilustrasi-ilustrasi tanda tanya keberadaannya,
waktu pulalah yang mengantarkan aku pada jawabannya.

Ternyata ia hanyalah cerita didalam cerita.
Hidupku adalah cerita berbingkai!
dia hanya sesaat bersama denganku,
jika saja ia pertanyakan lagi hal serupa seperti di halaman sebelum sekian,
kali ini aku tau jawabannya,

"Aku mempercayaimu dengan segera, adalah karena aku tak punya banyak waktu untuk mengenalmu."

ia yang beri aku jawaban itu dengan menentukan sendiri akhir perannya dalam ceritaku.

Di halaman sekian,
dia muncul dan tersenyum lagi padaku,
ia bilang...
"aku hanya pemeran utama dalam cerita yang kau tuliskan sendiri, tapi bukan pemeran utama yang Tuhan tuliskan untukmu,.."

Hidupku adalah cerita berbingkai.
sebab aku menentukan dan menulis sendiri akhir ceritanya dalam ceritaku.
di halaman sekian ia tersenyum lagi padaku.















"Hai waktu,..."

Hai...
Mari kita berdamai waktu,..
tentang segala yang selalu aku pertanyakan berulang,
mungkin membuatmu gusar,
maaf...
untuk sejuta janji yang kukira itu darimu,
ternyata itu dominasi anganku,
hayalan telah buat aku mengawang,
dan anggap semuanya mungkin terjadi dalam singkatmu.

Aku telah bersalah,
dan aku menyadarinya,
maafkan aku,
mari kita berjalan beriringan kembali,
menapaki apapun yang terjadi,
aku tahu,
waktu tidak akan memberi percuma,
bawa aku lagi untuk bermimpi yang sempurna,
seperti ketika itu,
saat kau ajak aku berekspedisi tempo,
dari satu titik waktu ke titik waktu yang lain,
bawa terus aku,
sampai aku menyimpulkan hal yang searah dengan alurmu,

Satu saja pesanku,
waktu,..
saat persepsi baruku ada dihidupku,
jangan pernah campkan aku,
aku dengar kamu tangguh,
tak ada yang mampu mengubahmu,
mungkin abadi ada padamu,
waktu tidak punya batasan untuk bergulir.

Tak usah hirau dengan keadaan,
karena ketidak setiaan,
justru terjadi ketika kesetiaan itu diharapkan.
Bukankah adalah milikmu juga?
dan masa depan,...
bisakah kau beri aku sedikit saja bocoran?
apa yang akan terjadi esok, lusa dan seterusnya?,

Oh ya waktu,
boleh aku meminta sesuatu?
katakan pada perubahan setialah padaku!
Aku tidak akan takut!

Jumat, 10 Mei 2013

Tolong Jelaskan!

Oleh: Harti Katresna

Berapapun besarnya andilku terhadap pikiranku,
Seperti apapun setting data meramalkan masa depanku,
Menyelaraskan prinsip-prinsip Newton yang kau sebut "Prinsip Keajaiban"
Menerapkan hukum-hukum filosofi untuk mengubah 'alur pikir'
Menjadikan semesta bertitik dikepala kita,
Mewujudkan mimp,..
Menyalurkan Obsesi,..
Melangkah pada skenario kita sendiri,

Kamu bilang "ini rahasia besar" yang kemudian kusebut ini "rahasia kita",
sampai pada semua proses itu, menurutmu apa yang kita dapatkan?
Biar aku jawab lebih dulu, aku mendapatkan lebih dari apa yang aku harapkan.

Aku mulai terbiasa,
dan aku semakin percaya,
Melihatmu dengan sedikit senyum saja,
Seperti melihat malaikat pengubah dunia,

Apa kau lihat pengaruhnya?

Aku yang sekarang bukan lagi aku yang waktu itu, aku lebih mencintai Tuhanku sekalipun kita memiliki cara masing-masing untuk mencintaiNya.

Aku percaya Tuhan maha bijaksana, dengan menghadirkan kamu untuk berpengaruh di jalanku. Di jalanNya. Sekalipun aku tahu dan Tuhan jauh lebih tahu kita berbeda.
Aku percaya Tuhan lebih banyak mengetahui apa yang tidak aku ketahui tentang perbedaan kita.

Pernah tempo hari kau bilang,
"Hey, menurutmu apa suatu kebetulan kita dipertemukan?" kemudian kau lanjutkan
"Pikirkan selalu orang-orang yang ingin kau temui, maka kau akan menemukannya."
yang kupikir saat itu kau adalah penjelmaan dari pikiranku sebelumnya, kau adalah manusia yang kupinta pada Tuhan. Semuanya memperkuat teori-teori itu, aku percaya kecerdasan emosi begitu kuat mengimbangi kecerdasan intelektual.

Tapi ada hal lain yang tidak seharusnya aku lupakan, apa kamu tahu? dan apa kamu ingat? ketika waktu menempatkan aku pada titik sulit waktu itu.
Kamu bertanya padaku

"Jika aku menyuruhmu menebang pohon dengan menggunakan sebilah golok apa yang akan kamu lakukan?"

Ah entah filosofi siapa itu yang kamu tuturkan aku hanya kagum pada kecerdasan memori dan pikiranmu menyeimbangkan dengan emosiku.
Kita sama-sama diam, aku masih berpikir tapi kamu mengakhiri semua kebisuan itu,seperti biasa, aku lihat senyummu dulu sebelum kamu berbicara

"Asah dulu goloknya baru kamu tebang pohonnya!"

Aku hanya tersenyum mengiyakan, 'ah aku kira goloknya sudah cukup tajam untuk aku gunakan' pikirku tak aku katakan.
entah kekuatan apa yang membuata aku merasa begitu nyaman dengan keberadaanmu.
aku tak mengharap apa-apa,
aku hanya ingin terus berada di posisi ini,
sebagai partner bicaramu,
tidak kurang,
tidak lebih,
tak sengaja ada tetesbening disudut mataku,
kemudian syaraf reflekku berujar padamu,
"apa kita bersaudara?"
aku melihat ragu padamu, tapi kemudian kau bilang "iya!"
aku lanjutkan ucapanku
"nanti kita jadi pengusaha hebat"
kamu mengedip saja waktu itu menyampaikan maksud menyetujui.

Bila saja ketika itu aku mengasah goloknya sampai sebegitu tajamnya, mungkin kita tidak akan dipertemukan. Pada akhirnya aku tetap harus berada dititik sulit.

Dan itulah yang disebut takdir, hal lain itu adalah takdir. Aku nyaris melupakan takdir.
ternyata ia lebih kuat, mengubah dan memberi arti lain,

dan jika saat ini kau tiba-tiba menghilang,
dan benar-benar berlawanan dengan apa yang aku pikirkan selama ini,
tidak sinkron dengan apa yang kau teorikan saat itu,
maka itu pula yang disebut takdir,

Tolong jelaskan padaku bagaimana teorinya dalam hal ini,
biar aku konsisten percaya teori-teorimu itu,
biar aku akui newton betul-betul ada pada konsep dunia kita,
biar aku lebih paham aristoteles pun mati untuk mempertahankan prinsip itu,
tanpa menyalahi aturan takdir
tanpa ada rasa kecewa padamu.

Bukankah kita saudara??
Selamanya??..