Cari Blog Ini

Jumat, 10 Mei 2013

Tolong Jelaskan!

Oleh: Harti Katresna

Berapapun besarnya andilku terhadap pikiranku,
Seperti apapun setting data meramalkan masa depanku,
Menyelaraskan prinsip-prinsip Newton yang kau sebut "Prinsip Keajaiban"
Menerapkan hukum-hukum filosofi untuk mengubah 'alur pikir'
Menjadikan semesta bertitik dikepala kita,
Mewujudkan mimp,..
Menyalurkan Obsesi,..
Melangkah pada skenario kita sendiri,

Kamu bilang "ini rahasia besar" yang kemudian kusebut ini "rahasia kita",
sampai pada semua proses itu, menurutmu apa yang kita dapatkan?
Biar aku jawab lebih dulu, aku mendapatkan lebih dari apa yang aku harapkan.

Aku mulai terbiasa,
dan aku semakin percaya,
Melihatmu dengan sedikit senyum saja,
Seperti melihat malaikat pengubah dunia,

Apa kau lihat pengaruhnya?

Aku yang sekarang bukan lagi aku yang waktu itu, aku lebih mencintai Tuhanku sekalipun kita memiliki cara masing-masing untuk mencintaiNya.

Aku percaya Tuhan maha bijaksana, dengan menghadirkan kamu untuk berpengaruh di jalanku. Di jalanNya. Sekalipun aku tahu dan Tuhan jauh lebih tahu kita berbeda.
Aku percaya Tuhan lebih banyak mengetahui apa yang tidak aku ketahui tentang perbedaan kita.

Pernah tempo hari kau bilang,
"Hey, menurutmu apa suatu kebetulan kita dipertemukan?" kemudian kau lanjutkan
"Pikirkan selalu orang-orang yang ingin kau temui, maka kau akan menemukannya."
yang kupikir saat itu kau adalah penjelmaan dari pikiranku sebelumnya, kau adalah manusia yang kupinta pada Tuhan. Semuanya memperkuat teori-teori itu, aku percaya kecerdasan emosi begitu kuat mengimbangi kecerdasan intelektual.

Tapi ada hal lain yang tidak seharusnya aku lupakan, apa kamu tahu? dan apa kamu ingat? ketika waktu menempatkan aku pada titik sulit waktu itu.
Kamu bertanya padaku

"Jika aku menyuruhmu menebang pohon dengan menggunakan sebilah golok apa yang akan kamu lakukan?"

Ah entah filosofi siapa itu yang kamu tuturkan aku hanya kagum pada kecerdasan memori dan pikiranmu menyeimbangkan dengan emosiku.
Kita sama-sama diam, aku masih berpikir tapi kamu mengakhiri semua kebisuan itu,seperti biasa, aku lihat senyummu dulu sebelum kamu berbicara

"Asah dulu goloknya baru kamu tebang pohonnya!"

Aku hanya tersenyum mengiyakan, 'ah aku kira goloknya sudah cukup tajam untuk aku gunakan' pikirku tak aku katakan.
entah kekuatan apa yang membuata aku merasa begitu nyaman dengan keberadaanmu.
aku tak mengharap apa-apa,
aku hanya ingin terus berada di posisi ini,
sebagai partner bicaramu,
tidak kurang,
tidak lebih,
tak sengaja ada tetesbening disudut mataku,
kemudian syaraf reflekku berujar padamu,
"apa kita bersaudara?"
aku melihat ragu padamu, tapi kemudian kau bilang "iya!"
aku lanjutkan ucapanku
"nanti kita jadi pengusaha hebat"
kamu mengedip saja waktu itu menyampaikan maksud menyetujui.

Bila saja ketika itu aku mengasah goloknya sampai sebegitu tajamnya, mungkin kita tidak akan dipertemukan. Pada akhirnya aku tetap harus berada dititik sulit.

Dan itulah yang disebut takdir, hal lain itu adalah takdir. Aku nyaris melupakan takdir.
ternyata ia lebih kuat, mengubah dan memberi arti lain,

dan jika saat ini kau tiba-tiba menghilang,
dan benar-benar berlawanan dengan apa yang aku pikirkan selama ini,
tidak sinkron dengan apa yang kau teorikan saat itu,
maka itu pula yang disebut takdir,

Tolong jelaskan padaku bagaimana teorinya dalam hal ini,
biar aku konsisten percaya teori-teorimu itu,
biar aku akui newton betul-betul ada pada konsep dunia kita,
biar aku lebih paham aristoteles pun mati untuk mempertahankan prinsip itu,
tanpa menyalahi aturan takdir
tanpa ada rasa kecewa padamu.

Bukankah kita saudara??
Selamanya??..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar